Kamis, 19 Mei 2016
Salam Redaksi
Salam
damai sejahtera para pembaca yang setia,
baik hati dan budiman “Suara kasih”.
Buletin dari Yayasan Mutiara Kasih Indonesia edisi kesebelas kami persembahkan kepada anda sebagai sarana
komunikasi antara Yayasan Mutiara Kasih Indonesia dengan pihak penderma.
“Suara Kasih” edisi yang kesebelas ini mempunyai Judul “KAMI TELAH MELIHAT TUHAN”, dimana kami mengajak para pembaca sekalian untuk membuka hati akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan sesama sehingga kerahiman Illahi dapat kita rasakan dalam hidup kita.
“Suara Kasih” edisi yang kesebelas ini mempunyai Judul “KAMI TELAH MELIHAT TUHAN”, dimana kami mengajak para pembaca sekalian untuk membuka hati akan kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan sesama sehingga kerahiman Illahi dapat kita rasakan dalam hidup kita.
“Suara Kasih” dalam edisi yang kesebelas akan menyajikan Kata Pengantar, Renungan dan Laporan Kegiatan.
Semoga melalui “Suara Kasih”, komunikasi antara para pembaca, penderma dan Yayasan Mutiara Kasih Indonesia boleh terjalin dengan baik. Kami juga menerima kritik dan saran untuk kemajuan dari Buletin ini. Salam damai sejahtera selalu….
Kata Pengantar
Perjumpaan
para murid dengan Tuhan membawa sukacita kepada mereka sehingga keluarlah dari
bibir mereka “Kami telah melihat Tuhan”.
Dengan melihat Tuhan kembali, mereka menyadari bahwa Tuhan hidup kembali
dan ini membuat iman mereka hidup kembali. Sebagai orang yang mengenal Tuhan,
kita perlu mengalami perjumpaan dengan Tuhan, ini berarti bukan perjumpaan
fisik dengan Tuhan, ketika kita melihat orang-orang di sekitar kita yang
menderita, kita berjumpa dengan Tuhan yang menderita, ketika kita melihat
orang-orang di sekitar kita yang melakukan ajaran kasih Allah maka kita melihat
citra Tuhan. Semoga kita semakin melihat Tuhan dalam kehidupan kita
sehari-hari. (MAVS)
Renungan : We Have Seen God
![]() |
| Rm. Ferdinandus Rheo, SDB Kepala Sekolah SMPK. Santo Mikael Surabaya |
Selamat Paskah sama saudaraku yang dikasihi
Tuhan. Senang rasanya bisa berjumpa kembali via media ini, semoga semuanya
sehat dan dalam naungan kasih Tuhan.
Sama saudaraku, Tuhan yang kita imani telah
bangkit, kita melihat Dia karena kita mendapatkan cahaya kekudusan, cahaya yang
memberi pengharapan, cahaya yang meneguhkan dan meyakinkan kita jika kita tidak
mengimani Tuhan yang salah. Ketika
peristiwa penderitaan Tuhan terjadi, banyak yang meningglakan dia dan kembali
kepada aktivitasnya masing-masing dan “menjauh” dari Yerusalem kota kudus
tempat bait Allah. Perginya para pengikut dari Yesus yang disimbolkan dengan
menjauhnya mereka dari Yerusalem juga dilakukan oleh para Rasul yang keseharian
hidupnya bersama dengan Tuhan Yesus.
Apa saja yang dialami ketika mereka menjauh
dan pergi? Tentunya mereka mengalami kegelapan, para rasul mangalami
kemerosotan iman, mereka tidak dapat lagi mengenal Tuhan yang menampakan diri
seperti dalam perjalanan mereka ke Emaus (Lukas 24:13-35) karena mereka melihat
tidak lagi dengan mata iman. Dan bahkan berada dalam kegelapan hasil tangkapan
mereka semalam-malaman tidak membuahkan hasil, namun ketika sang terang datang
mereka mendapatkan hasil tangkapan ikan yang begitu bayak, sejumlah 153 ekor
ikan besar (Yoh. 21:11). Ada apa dengan 153 ekor ikan besar? Mengapa bukan 7,
10, 12, 40 atau 5000 sesuai dengan jumlah yang sering disebut dalam Kitab Suci?
Ternyata 153 ekor ikan besar mau mengingatkan mereka akan banyaknya mukjisat
yang dilakukan Tuhan semasa masih bersama-sama dengan para rasul, yang
disimbolkan dengan 153 ekor ikan besar. Sungguh kaya memang Kitab Suci, apabila
kita membaca dan merenungkan serta mengerti dan mengamalkannya. We have seen
God, juga merupakan seruan untuk kembali membuka memory kita akan
penyelenggaran Ilahi dengan banyaknya berkat yang kita terima selama hidup
kita. Pembuktian terbesar dari berkatNya adalah kembangkitan Tuhan itu sendiri.
Sama saudaraku, Tuhan sudah bangkit, kita
sudah melihat Tuhan, suka cita Paskah sudah dan sedang kita rayakan, namun
apakah kita juga mengalami Paskah Tuhan? Inilah pertanyaan reflektif yang bisa
menjadi permenungan kita.
Pernah ada seorang pengusaha muda keluar dari
kantornya untuk makan siang, ketika sampai di tempat parkir mobil ia melihat
seorang anak yang sedang memperhatikan mobilnya dengan penuh penasaran. Lantas
anak itu bertanya kepada pengusaha muda, “apakah ini mobil bapak?” oh ya ini
mobil saya, jawab pengusaha itu, “wow bagus ya mobilnya” oh ya bagus memang, by
the way actualy ini mobil hadiah Natal dari kakak saya! “oh I see, hebat ya
saudara bapak yang memberikan mobil ini, jujur aku suka!” pengusaha muda sedang
berpikir bahwa pasti anak ini akan mengatakan aku mau punya saudara perti
kakakmu! Namun akhirnya anak itu melanjutkan “Bapak aku suka dengan sikap
saudara Bapak, aku mau seperti saudara Bapak yang memiliki sifat yang mau
berbagi, aku juga ingin berbagi kasih dengan saudara mudaku, aku mau dia
merasakan kasihku kepadanya”, mendengar kata-kata anak itu, pengusaha muda
memutuskan untuk tidak makan siang akan tetapi kembali ke kantor dan mulai
merenungkan perkataan anak kecil tadi dan rasa rasa laparnya pun hilang
seketika.
Sama saudaraku memang kebahagian terbesar
bukan ketika kita bisa menerima namun ketika kita bisa berbagi seperti Tuhan
berbagi seluruh hidupnya untuk kita umatnya. Ketika kita bisa bebrbagi, berarti
kita sudah mengalami Paskah, dan kita sebenarnya secara tidak langsung telah
mengatakan melalui perbuatan kita bahwa “We have seen God” yang bangkit.
Selamat Paskah, Berkah Dalem.
LIPUTAN KEGIATAN YMKI - REKOLEKSI OUTBOUND SISWA 2016
Puji Syukur atas penyelenggaraan Ilahi, kami
boleh mengadakan Rekoleksi Outbound Siswa pada tanggal 13-14 Februari 2016 di rumah retreat Sasana Krida Jatijejer,
Mojokerto.
Rekoleksi yang dikhususkan untuk siswa-siswi
SMP ini diikuti oleh siswa-siswi kelas 7 sampai dengan kelas 9 dari SMPK Santo Mikael Surabaya, SMPK Indriasana 4 Surabaya, dan SMPK Indriasana 7 Surabaya, dengan total
jumlah peserta 205 orang.
Rekoleksi ini diadakan selama 2 hari 1 malam dan bertema “Transformer Generation”. Tujuan dari rekoleksi ini adalah membawa peserta kepada penyadaran untuk transformasi
diri. Ada 3 sesi yang disampaikan pada hari Sabtu, 13 Februari 2016, yaitu Transformasi Hati, Transformasi
Pikiran, danTransformasi Perilaku. Sesi ke-3 ditutup dengan acara pelepasan balon yang telah diikatkan dengan kertas impian dan harapan yang mereka tulis. Pada hari minggu, diadakan
Outbound untuk melengkapi sesi dalam tindakan nyata.


Selasa, 02 Februari 2016
SALAM REDAKSI
Salam
damai sejahtera para pembaca yang setia,
baik hati dan budiman “Suara kasih”.
Buletin dari Yayasan Mutiara Kasih Indonesia edisi kesepuluh kami persembahkan kepada anda sebagai sarana
komunikasi antara Yayasan Mutiara Kasih Indonesia dengan pihak Penderma.
“Suara Kasih” yang ke sepuluh ini mempunyai Judul “ANGKATLAH WAJAHMU BAGI RAJAMU”,
dimana kami mengajak para pembaca sekalian untuk mempunyai hati yang teguh
untuk memasuki tahun 2016 dengan memandang kebesaran kasih Tuhan, Raja Alam
Semesta dan isinya serta tetap mempunyai empati terhadap sesama yang tak
berdaya sebagai bentuk aksi kita di tahun kerahiman Illahi.
“Suara
Kasih” dalam edisi yang ke sepuluh akan menyajikan Kata Pengantar, Renungan dan
Laporan Kegiatan. Semoga
melalui “Suara Kasih”, komunikasi antara
para pembaca, penderma dan Yayasan Mutiara Kasih Indonesia boleh terjalin
dengan baik.
Kami juga menerima kritik dan saran untuk kemajuan dari Buletin
ini.
Salam damai sejahtera selalu….
Redaksi “Suara Kasih”
Kata Pengantar : Angkatlah Wajah, Rajamu Tiba
Malam itu, aku tidak dapat tertidur, rasa penat setalah beraktifitas seharian rupanya tidak cukup mengantar aku kedalam alam mimpi.
Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa takut dan gentar untuk memasuki tahun 2016.
Aku takut karena aku tahu barang-barang di pasar akan semakin mahal,
Aku takut karena persaingan di dunia kerja semakin berat, aku takut tidak mampu memberikan kehidupan yang baik untuk keluargaku, aku takut tidak dapat menyekolahkan anak-anak-ku.
Semua ketakutan itu seakan mengengelamkan pikiran dan seluruh hidupku.
Saat itulah aku teringat akan Seorang Sahabat yang selalu ada dalam kehidupan ini. Sahabatku mengajak aku untuk kembali melihat sejarah kehidupanku, semenjak aku kecil sampai sekarang.
Sahabatku mengajak untuk melihat kedalam diriku sendiri, menyadarkan betapa kecil dan lemahnya diriku, betapa rapuh dan tidak berdayanya diriku. Tidak berhenti disana, Dia juga menunjukan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam kehidupanku. Bagaimana Allah Bapa mencintai dan memelihara diriku dan seluruh keluargaku. Dia mengajak aku untuk merenungkan, betapa berartinya diriku bagiNya. Saat itulah aku kembali sadar, betapa aku dicintai, dipelihara, ditebus dan tanganku selalu dituntun oleh Roh Kudus dalam kehidupan ini. Aku sadar betapa kehidupanku berarti bagi Allah.
Mungkin ada pembaca yang mengalami ketakutan yang sama dengan apa yang aku alami, saat inilah waktunya bagi kita semua untuk mengangkat wajah dalam menyambut tahun 2016. Karena tahun inilah tahun Yubilium Kerahiman Ilahi, tahun penuh rahmat dan pengampunan, tahun dimana kita semua harus bangkit dalam menjalani kehidupan, menjadi lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Marilah kita menyambut uluran tangan Tuhan, marilah kita pegang tanganNya dalam menjalani hari-hari kita, biarlah kita semua boleh mengalami pengalaman kasih Allah, biarlah Rahmat Pengampunan memperbarui hidup kita, biarlah iman kita terus bertumbuh dan berkembang, dan pada akhirnya biarlah kehidupan kita boleh memberikan pengharapan dan kehidupan bagi orang lain.
Akhir kata, ijinkanlah penulis mengucapkan selamat Natal 2015 dan Tahun Baru 2016.
Mari kita penuhi tahun 2016 dengan iman dan kepercayaan akan kerahiman Allah, dengan kerja keras dan pengharapan, dengan doa dan kasih, dan juga dengan karya pelayanan kepada sesama.
Angkatlah Wajah, Rajamu tiba…….
By : Sujanto
Entah mengapa, tiba-tiba aku merasa takut dan gentar untuk memasuki tahun 2016.
Aku takut karena aku tahu barang-barang di pasar akan semakin mahal,
Aku takut karena persaingan di dunia kerja semakin berat, aku takut tidak mampu memberikan kehidupan yang baik untuk keluargaku, aku takut tidak dapat menyekolahkan anak-anak-ku.
Semua ketakutan itu seakan mengengelamkan pikiran dan seluruh hidupku.
Saat itulah aku teringat akan Seorang Sahabat yang selalu ada dalam kehidupan ini. Sahabatku mengajak aku untuk kembali melihat sejarah kehidupanku, semenjak aku kecil sampai sekarang.
Sahabatku mengajak untuk melihat kedalam diriku sendiri, menyadarkan betapa kecil dan lemahnya diriku, betapa rapuh dan tidak berdayanya diriku. Tidak berhenti disana, Dia juga menunjukan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam kehidupanku. Bagaimana Allah Bapa mencintai dan memelihara diriku dan seluruh keluargaku. Dia mengajak aku untuk merenungkan, betapa berartinya diriku bagiNya. Saat itulah aku kembali sadar, betapa aku dicintai, dipelihara, ditebus dan tanganku selalu dituntun oleh Roh Kudus dalam kehidupan ini. Aku sadar betapa kehidupanku berarti bagi Allah.
Mungkin ada pembaca yang mengalami ketakutan yang sama dengan apa yang aku alami, saat inilah waktunya bagi kita semua untuk mengangkat wajah dalam menyambut tahun 2016. Karena tahun inilah tahun Yubilium Kerahiman Ilahi, tahun penuh rahmat dan pengampunan, tahun dimana kita semua harus bangkit dalam menjalani kehidupan, menjadi lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Marilah kita menyambut uluran tangan Tuhan, marilah kita pegang tanganNya dalam menjalani hari-hari kita, biarlah kita semua boleh mengalami pengalaman kasih Allah, biarlah Rahmat Pengampunan memperbarui hidup kita, biarlah iman kita terus bertumbuh dan berkembang, dan pada akhirnya biarlah kehidupan kita boleh memberikan pengharapan dan kehidupan bagi orang lain.
Akhir kata, ijinkanlah penulis mengucapkan selamat Natal 2015 dan Tahun Baru 2016.
Mari kita penuhi tahun 2016 dengan iman dan kepercayaan akan kerahiman Allah, dengan kerja keras dan pengharapan, dengan doa dan kasih, dan juga dengan karya pelayanan kepada sesama.
Angkatlah Wajah, Rajamu tiba…….
By : Sujanto
Renungan : IN THE FATHER’S HOUSE
Selamat Natal Saudaraku!
Natal selalu diasosiasikan dengan kebersamaan, persatuan dan momen
berkumpulnya keluarga bahkan identik dengan keluarga itu sendiri. Kita tentu
pernah merasakan bagaiman begitu banyak orang yang, pada saat menjelang Malam
Natal, mencoba dengan berbagai cara bahkan cara terbaik mereka untuk
mendapatkan tumpangan agar bisa pulang dan bersatu dengan keluarga baik di kota
maupun di desa.
Natal tanpa keluarga hanyalah sebuah perayaan
yang kosong, tanpa makna, karena hanya bisa dinikmati dari jauh. Kesatuan Hati dengan
persaaan memiliki hanya bisa dirasakan ketika kita berada di rumah. Ya "di
rumah Bapa."
Kita baru saja melewati liturgy "Keluarga
Kudus." Ini adalah pengalaman kehidupan keluarga yang sudah dinubuatkan yang
mana kita mengetahui bahwa kehidupan “keluarga kudus” mengalami pergeseran dari
kehidupan yang sederhana di palungan sampai pada tingkat rumit segera setelah
anak lahir. Mulai dengan pemimpin tidak ramah dan tidak memberikan rasa aman dengan
perasaan iri seperti Herodes sudah dikelabui dengan ide-ide gila yang sangat
komplikasi. Namun berkat kepemimpinan seorang kepala keluarga, oleh Joseph, ibu
dan anak dilarikan diri ke Mesir untuk menghindari ancaman bagi kehidupan bayi
yang berada dalam bahaya.
Keluarga dan keluarga Kristen pada umumnya
sekarang juga terancam punah dengan beragam cara. Kehidupan keluarga di seluruh
dunia sekarang mengalami situasi rumit dan mengepung dan terkepung dari semua
lini kehidupan. Sama seperti kanak Yesus, anak-anak, juga, di zaman kita
terancam oleh begitu banyak tantangan bukan hanya nilai kehidupan, tetapi juga melawan
begitu banyak nilai-nilai atau hak-hak lain yang seharusnya anak-anak nikmati
diusia mereka. Dan banyak kehidupan dari keluarga yang awalnya suci oleh
sakramen, terpaksa berjuang untuk kembali kepada kesucian karena tantangan yang
merusak nilai kekudusan dalam keluarga.
Keluarga Yesus, Maria dan Yusuf juga menghadapi
tantangan pemisahan yang menyakitkan secara tiba-tiba. Anak laki-laki, yang
berusia tidak lebih dari 12 tahun, hilang seharian. Orang tua bingung mencari di
seluruh anggota keluarga dan sahabat kenalan, mereka panik dan mencoba untuk
memahami rasa sakit saat mendengarkan jawaban yang tampaknya menyakitkan dari
anak ketika ditanya: "Mengapa kamu mencari Aku? Apakah kamu tidak tahu
bahwa Aku harus berada di rumah Bapa-Ku? "
Anak itu, sejak awal, sudah mengetahui
prioritasnya. Orang tua, agak terlambat juga, mengerti bahwa itu adalah bagian
dari kehidupan keluarga menjadi untuk rasul, juga, untuk orang lain dan atas
nama Allah. Agak terlambat, juga, Yusuf dan Maria belajar bahwa kebersamaan
keluarga dan kesatuan tidak hanya akan berarti kehadiran secara fisik berkumpul
bersama-sama sepanjang waktu, tetapi bersatu dalam melakukan “Bisnis Bapa”.
Anak itu, akan membuat mereka mengerti pada
waktunya, bahwa dia harus berada di dalam rumah Bapa untuk melakukan misis
seperti Allah kehendaki yakni menjadi instrumen Bapa yang menyelamatkan.
Ya, teman-teman, orang tua tercinta dan anak-anak
tercinta. Keluarga Kristiani diminta oleh Tuhan untuk berbagi iman. Mereka juga
dikirim untuk menjadi utusan melakukan rencana Bapa bagi dunia dan bagi
kemanusiaan.
Keluarga, menurut ajaran Gereja, harus menjadi
Gereja domestik, dan hal terakhir yang saya dengar adalah, Gereja pada intinya
berarti yang diutus, hadir dengan bisnis Allah, dan melakukan kehendak Bapa.
Jadi bagaimana dengan kita? Apakah kita akan menghabiskan waktu kita, usaha dan semua sumber daya yang kita miliki di rumah Bapa?
By : Rm. Ferdinandus Reo, SDB (Kepala Sekolah SMPK. Santo Mikael)
LIPUTAN KEGIATAN YMKI- RETREAT ANAK SMP KELAS VII
Puji Syukur kepada Allah karena Yayasan Mutiara Kasih dapat mengadakan retreat untuk anak-anak SMP kelas VII di Canta
Yumana-Trawas, pada tanggal 25-27 September 2015. Retreat yang
mempunyai tema “Life is Beautiful” ini diadakan dengan
tujuan dan kerinduan yang dalam untuk membawa anak-anak mengalami pemulihan hidup
dalam Tuhan, dalam keluarga dan dalam hubungan dengan sesama.
Retreat tahun ini diikuti oleh 48 Siswa
kelas VII dari SMPK Santo Mikael, Surabaya dan 13 Siswa kelas VII dari SMPK Indriasana 4, Surabaya dan 27 Siswa
kelas VII dari SMPK Indriasana 7, Surabaya, total peserta retreat adalah 89
Siswa dengan didampingi 10 guru dari ketiga Sekolah tersebut diatas. Retreat
yang dikemas dalam 6 Session dibawakan oleh 3 pembicara muda dari BPK PKK
Surabaya.
Harapan kami setelah retreat ini anak-anak
dapat mengalami sukacita meskipun masalah tetap ada dan selalu rindu untuk
bersekutu dengan Tuhan dengan menempatkan Tuhan sebagai yang terutama untuk
sumber sukacita mereka. AMDG….
Kamis, 17 September 2015
Rabu, 16 September 2015
Salam Redaksi
Salam damai sejahtera para pembaca "Suara Kasih" yang setia, baik hati dan budiman.
Buletin Yayasan Mutiara Kasih Indonesia edisi ke sembilan kembali kami persembahkan kepada anda, sebagai sarana komunikasi antara Yayasan Mutiara Kasih Indonesia dengan pihak penderma.
Buletin "Suara Kasih " yang ke sembilan ini mempunyai judul "PAY ATTENTION", dimana kami mengajak para pembaca sekalian untuk membuka hati, membuka mata dan membuka telinga terhadap orang-orang di sekitar kita.
Dalam edisi kali ini, akan disajikan Kata Pengantar, Renungan, dan Laporan Keuangan periode April-Juli 2015.
Semoga melalui "Suara Kasih", komunikasi antara para pembca, penderma, dan Yayasan Mutiara Kasih Indonesia boleh terjalin dengan baik. Kami juga menerima kritik dan saran untuk kemajuan dari buletin ini.
Salam damai sejahtera selalu...
Redaksi "Suara Kasih"
Buletin Yayasan Mutiara Kasih Indonesia edisi ke sembilan kembali kami persembahkan kepada anda, sebagai sarana komunikasi antara Yayasan Mutiara Kasih Indonesia dengan pihak penderma.
Buletin "Suara Kasih " yang ke sembilan ini mempunyai judul "PAY ATTENTION", dimana kami mengajak para pembaca sekalian untuk membuka hati, membuka mata dan membuka telinga terhadap orang-orang di sekitar kita.
Dalam edisi kali ini, akan disajikan Kata Pengantar, Renungan, dan Laporan Keuangan periode April-Juli 2015.
Semoga melalui "Suara Kasih", komunikasi antara para pembca, penderma, dan Yayasan Mutiara Kasih Indonesia boleh terjalin dengan baik. Kami juga menerima kritik dan saran untuk kemajuan dari buletin ini.
Salam damai sejahtera selalu...
Redaksi "Suara Kasih"
Senin, 14 September 2015
Susunan Redaksi Suara Kasih dan Susunan Pengurus YMKI
SUSUNAN REDAKSI SUARA KASIH
| |
Penasehat/ Penanggung jawab
|
: Sujanto
|
Pemimpin Umum
|
: Fransiskus Eko
|
Pemimpin Redaksi
|
: Susana
|
SUSUNAN PENGURUS YAYASAN MUTIARA KASIH INDONESIA (YMKI)
| ||
Penasehat
|
:
|
Denny Hartono dan Sujanto
|
Ketua
|
:
|
Fransiskus Eko
|
Pengurus Harian
|
:
|
Susana
|
Profil Yayasan Mutiara Kasih Indonesia
Yayasan mutiara kasih, lahir dari kerinduan untuk mencerdaskan bangsa melalui pendidikan formal dan ikut ambil bagian dalam pendidikan moral dan spiritual untuk membentuk generasi bangsa yang mempunyai jiwa yang tangguh dalam menghadapi tantangan jaman, serta mempunyai budi pekerti yang baik dan mempunyai karakter yang baik. Apa yang baik dalam diri seseorang itu digali dan dibina serta dikembangkan sehingga dapat menjadi mutiara yang berharga dan memberikan kasih pada lingkungan sekitarnya. Yayasan Mutiara Kasih juga lahir dari kerinduan untuk menanamkan dan menjalankan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” (sila ke 5 dari Pancasila) dibidang pendidikan.
VISI
Menjadikan peserta didik orang yang kuat dalam iman, berprestasi, mandiri dan mempunyai karakter yang baik.
MISI
- Menanamkan nilai-nilai rohani hingga mempunyai akar yang kuat dalam iman pada peserta didik.
- Menanamkan nilai-nilai budaya dan kemanusiaan pada peserta didik.
- Menggali potensi anak dan mengembangkan potensi anak hingga mereka dapat berprestasi.
- Mengikuti perkembangan kemajuan di bidang pendidikan dan teknologi dan mengajarkannya pada peserta didik.
- Memotivasi anak untuk maju dan berkembang serta mempunyai kepercayaan diri.
- Melakukan pendidikan karakter.
Kata Pengantar : Pay Attention
Pada waktu itu, saya sedang menunggu pesawat yang akan membawa saya terbang dari Surabaya menuju ke Jogjakarta. Saya melihat jam di handphone saya, ternyata ada waktu tunggu kurang lebih 60 menit sampai naik ke pesawat, karena itu, saya sedikit bersantai di restaurant sambil menikmati jajanan dan minuman, serta mengobrol dengan teman yang kebetulan bertemu disana.
Setelah saya selesai mengobrol, saya segera mengambil tas dan menuju ke gerbang dan melakukan proses check in untuk masuk ke pesawat, tetapi apa yang terjadi sangatlah mengejutkan saya.
Petugas yang ada disana mengatakan bahwa pesawat yang saya tumpangi telah berangkat. Mereka mengatakan bahwa nama saya telah dipanggil berkali-kali lewat pengeras suara, tetapi saya tidak datang untuk menjawab panggilan tersebut. Seketika itu juga, saya melirik ke handphone yang terselib di saku celana, dan alangkah terkejutnya, karena waktu keberangkatan saya telah lewat lebih dari 30 menit.
Saat itu perasaan saya sungguh kesal, marah dan juga bingung. Tiket pesawat saya hangus (uang tidak dapat kembali) dan saya masih harus mengeluarkan uang tambahan untuk naik bis menuju menuju ke jogja.
Itulah cerita kecil mengenai Pay Attention atau memberikan perhatian.
Ketika terlalu asik dengan makan, minum dan mengobrol dengan teman, saya tidak memberikan Pay Attention terhadap waktu keberangkatan pesawat, akibatnya saya tertinggal.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga dituntut untuk memberikan perhatian atau pay attention terhadap hal-hal yang menjadi prioritas dalam kehidupan.
Sebagai seorang Suami, saya dituntut memberikan perhatian dan cinta kepada belahan hati yang saya nikahi dalam Sakramen Kudus.
Sebagai seorang Ayah, saya dituntut untuk membimbing anak-anak yang telah dikaruniakan kepada saya, membimbing mereka agar kelak mereka siap dalam menghadapi kehidupan.
Sebagai seorang Anak, saya dituntut untuk memberikan rasa hormat dan cinta kepada orang tua yang telah mendidik dan membesarkan saya.
Sebagai seorang Murid Kristus, saya dituntut untuk belajar dari Sang Guru, belajar mencintai, belajar mengasihi, belajar melayani dan juga belajar untuk mengenal Dia dengan lebih baik lagi.
Ketika kita tidak memberikan perhatian terhadap hal-hal yang menjadi prioritas dalam kehidupan ini,
Hidup ini akan kehilangan arah dan kehilangan makna, kita akan menjadi bingung ketika dihadapkan dalam pilihan. Hidup ini akan menjadi kapal yang berlayar tanpa kendali, hanya berlayar mengikuti kemana arah angina berhembus.
Tetapi sebaliknya, jika kita memberikan perhatian terhadap hal-hal yang menjadi prioritas dalam kehidupan ini, maka langkah yang kita ambil akan menjadi pasti dan berarti.
Para pembaca yang terkasih, Luangkanlah sedikit waktu untuk melihat kembali mengenai kehidupan yang selama ini telah kita jalani,
Apakah dari hari ke hari, kehidupan ini menuju kearah yang lebih baik ?
Apakah kita mempunyai prioritas dalam kehidupan ini ?
Apakah kehidupan kita membawa berkat bagi orang lain ?
Apakah kita telah memberikan perhatian atau Pay Attention terhadap prioritas kehidupan yang telah kita tetapkan ?
Apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan masa depan, ambilah suatu keputusan yang tidak akan disesali di kemudian hari.
Salam,
Sujanto
Renungan : What do you Want?
WHAT DO YOU WANT?
Jesus turned around, saw them following and said, 'What do you want?' They answered, 'Rabbi' - which means Teacher - 'where do you live?' (John 1:38)
Salam jumpa kembali saudaraku.
Ayo kerja, itulah semboyan yang merangkul keseluruhan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tercinta yang ke-70. Kemerdekaan yang kita alami dan rasakan ini adalah hasil dari perjuangan yang tanpa henti dan berkesinambungan dari seluruh putra-putri Indonesia sejak dahulu hingga saat ini. Kita patut bersyukur bahwa kemerdekaan yang sudah menjadi bagian dari negara ini sejak 70 tahun yang lalu tidak terlepas dari penyelenggaraan dan campur tangan Tuhan.
Semboyan Ayo Kerja bagi kita pengikut Kristus tidak berhenti pada tingkat Ora et Labora (berdoa dan bekerja). Bagi kita berdoa dan bekerja seakan memberi kesan antara doa dan kerja adalah dua dunia yang berbeda. Yang satu bersifat duniawi dan yang lainnya Ilahi. Apakah sebatas itu kekayaan doa dan karya kita? Jawabannya adala tidak. Kita perlu masuk kepada pemahaman yang lebih mulia dan bermartabat sebagai anak-anak Allah yang merdeka; Orare est Laborare - Laborare est Orare (doa kita adalah kerja dan kerja kita adalah perwujudan nyata dari doa kita).
Sama saudaraku yang dikasihi Tuhan, ketika kita menjadikan semua pekerjaan kita adalah bentuk doa yang nyata, kita sebenarnya sedang meningkatkan nilai kerja yang lebih Kristiani, kudus dan mulia. Dengan bekerja, kita sedang menyempurnahkan kemanusiaan kita yang adalah perwujudan dari gambar dan rupa Tuhan itu sendiri. Rupa Tuhan yang mencintai, rupa Tuhan yang peduli, rupa Tuhan yang mau berkorban demi cintanya kepada umatnya.
What do you want? Ini adalah sebuah pertanyaan “peduli”, pertanyaan yang siap berkorban bagi mereka yang membutuhkan Dia. Perbuatan Turned around yang dilakukan Tuhan kepada murid Yohanes adalah sebuah tindakan “peka”, tindakan mau memberi waktu, tindakan yang memiliki hati yang mau berbagi serta care. Tuhan yang sedang sibuk dengan rutinitas pewartaanya, masih menyempatkan diri untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang untuk melihat kebutuhan mereka yang merindukan Dia, mereka yang ingin mengenalNya dan mau tinggal bersama dengan Dia.
Tuhan tidak hanya berhenti dan menoleh ke belakang, namun Dia masuk ke dalam kerinduan mereka yang mengikutiNya dengan sebuah pertanyaan “harapan”; “What do you Want?” jawaban yang mereka berikan kepada Tuhan adalah sebuah jawaban kepastian, jawaban mengenai destiny bagi mereka merindukan Tuhan. 'Rabbi where do you live?' mereka seakan bertanya Guru di manakah Engkau tinggal, di manakah kasih, di manakah kebahagiaan, di manakah kedamaian, di manakah keabadian kerajaanMu? Mereka tidak sekedar bertanya tempat tinggal, namun mereka merindukan sebuah keabadian yang damai, penuh kasih dan sukacita yang merupakan gambaran kerajaan Allah itu sendiri.
Kita telah memperoleh kemerdekaan sebagai sebuah Negara yang sudah merayakan ulang tahunnya yang ke-70, lantas bagaimana dengan kemerdekaan kita sebagai anak-anak Tuhan? Kalau kita menyebut diri kita orang Kristiani atau Kristus-Kristus kecil, dengan semangat “ayo kerja” yang kita miliki saat ini, apakah kita juga menyempatkan diri untuk berhenti, menoleh ke belakang menanyakan kepada mereka yang membutuhkan dengan pertanyaan “What do you want seperti Tuhan?
Saudaraku, kita sudah dan sedang memberikan dan menunjukan kepada mereka yang mencari Tuhan sebuah “destiny” melalui kepedulian kita kepada kebutuhan mereka khususnya saat ini dalam dunia Pendidikan. anak-anak asuh kita yang selama ini kita perhatikan, kita bantu. Secara tidak langsung sebenarnya kita sudah dan sedang berhenti, memberi waktu, menoleh dan care kepada mereka yang membutuhkan. Kita membuat mereka berpengharapan, memiliki kerinduan dan merasakan sebuah “destiny”, kasih, damai dan sukacita selama peziarahan mereka di dunia ini dengan pertanyaan “Adik-adik What do you Want?” God Bless Everybody!!
By : Rm. Ferdinandus Reo, SDB (Kepala Sekolah SMPK St. Mikael)
Jumat, 11 September 2015
Laporan Keuangan
LAPORAN POSISI KEUANGAN
|
||
No.
|
Perkiraan
|
Juli 2015
|
Aktiva
|
(Rp)
|
|
1
2
3
|
Kas
Bank BCA
Bank Panin
|
25.676.515
2.143.921
126.503
|
Jumlah Aktiva
|
27.946.939
|
|
LAPORAN AKTIVITAS
|
||
No.
|
Perkiraan
|
April-Juli 2015
|
Penerimaan
|
(Rp)
|
|
1
2
3
|
Donatur Prota
Bunga Bank (BCA+Panin)
Sumbangan
|
18.100.042)
4.869)
55.828.300)
|
Jumlah Penerimaan
|
73.933.211)
|
|
Pengeluaran
|
||
5
6
7
8
9
10
11
12
13
|
Biaya Prota
Biaya Adm Bank
Biaya bantuan
Biaya Anak Asuh
Biaya Rekoleksi
Biaya Pembinaan
Biaya Sekretariat
Biaya Inventaris
Gaji Karyawan (Apr s/d Jul ‘15)
|
21.340.000)
52.000)
14.200.000)
33.123.600)
-)
1.240.000)
-)
-)
8.000.000)
|
Jumlah Pengeluaran
|
77.955.600)
|
|
Kenaikan Aktiva Bersih
|
(4.022.389)
|
|
Langganan:
Postingan (Atom)











